Now Playing Tracks

jurnalramadhan:

Taktik Bela Diri untuk Semua Tinggi Badan

Gambar 1: Jika penyerang kalian memiliki tinggi badan yang hampir sama dengan kalian, dengan kedua lengan memblokir jalan keluar, pukulan cepat pada ketiak yang lemah dapat menyebabkan rasa sakit yang kuat.

Gambar 2: Dalam posisi ini, di mana seseorang sedikit lebih tinggi dari kalian, gambar ini merekomendasikan pukulan ke ulu hati. Ulu hati berada tepat di bawah tulang dada dan pukulan terhadapnya dapat menyebabkan perasaan seperti angin memukul jatuh kalian.

Gambar 3: Jika kalian menemukan diri kalian terjebak dengan seseorang yang lebih tinggi dari kepala kalian, gambar ini merekomendasikan pukulan klasik ke arah dagu.

Gambar 4: Pada gambar terakhir, ketika menghadapi seseorang yang lebih tinggi secara signifikan daripada kalian, gambar ini menunjukkan pukulan kepala sambil melompat ke arah dagu. Harap dicatat bahwa memukul seseorang dengan kepala itu berisiko, karena dapat melukai kedua belah pihak tergantung pada bagian kepala mana yang terjadi kontak.

Sumber: japanesestation.com – View on Path.

Perlu di praktekkin deh ini :))

So, tell me, what are the most important lessons you’ve learned in life?‎

—You are responsible for your own happiness, not other people.
—Is your job your passion? Well done. If it isn’t, it’s also okay. You can still be happy.
—Of all things you can learn in college, here are the two most important lessons for career success: how not to be a prick, and public speaking.
—Your body is your life. If your body is not fit and healthy, you don’t have a life. Spend money and time for health.
—Don’t be selfish douche. But also don’t worry too much about other people’s opinion. Find balance. 
—Read. You will be smarter, and you can engage in conversations. And probably get laid too.
—Don’t be religious. Be spiritual. Know the difference.
—Respect science. Your life depends on it.
—Be nice and courteous to all people. Say thank you and smile to waiters, store staffs, anyone who helps you.
—Invest in quality friends, not superficial acquaintances.
—If it is only 3 stories, take the stairs, not elevator.
Occasionally, do charity/volunteer work. Not to get rewards in heaven, but to share your blessing.
—Give because you have received, not because you expect something.
—Be nice to your parents, lest you regret it when they are gone.
—You will break someone’s heart, and yours by someone else. That’s a fact of life. Suck it up.
—Don’t be too serious. We are all dead someday.
—If you think someone you meet look nice today, say it so. You may just make someone’s day.
—Don’t overeat. Cut sugar.
—Don’t bully people.
—In real life or online.Karma has a powerful weapon. It’s called social media.
—Often times shit happens. Just random. Not because of what you did in the past, or gods hate you. Life has a lot of randomness. Acknowledge it.
—Often time luck happens. Just random. Not because of what you did in the past, or gods love you. Life has a lot of randomness. Acknowledge it. Stay humble.
-Om Piring on ask.fm-

Paling males, kalo baca share status/tulisan/wejangan/nasihat tentang “Married” (yg ujung2nya galau balau). MasyaAllah banget ya, mahasiswa tanggung jaman sekarang udah pada ngomongin married, lulus aja belum, duit aja masih nadah. 

-Alibinya kalo diomongin langsung : “Daripada pacaran, mending di halal-in”

Serah lu dah ! Sorry, kalo gw unfriend !

———————————————————————————————————————————————

Catatan tentang “Amburegul Emeseyu Bahrelway”: Yuk Terus Belajar Bahasa Inggris!

on Aug 17, 2014 08:38 am

Beberapa minggu terakhir, jagat social media kita dihebohkan dengan amburegul bahereway. Apa itu?

Lihat saja screenshot ini:

14082384802003223637

Ini tersangkanya, video iklan pasta gigi Close Up dengan soundtrack berjudul Titanium oleh David Guetta.

Jujur, memang lucu sih, menertawakan orang yang tidak punya kemampuan listening bahasa Inggris yang dengan polosnya bertanya seperti itu.

Tapi tahu tidak, sebenarnya dengan menertawakan dia (entah siapa dia) kita juga menertawakan diri kita sendiri. Suka tidak suka. Menertawakan bangsa Indonesia yang memang kemampuan bahasa Inggrisnya masih harus diasah lagi. Berdasarkan English Proficiency Index dari English First, Indonesia menempati peringkat 25, masuk kategorimoderate proficiency alias pas-pasan. Nggak bego-bego amat, tapi juga tidak bisa dibilang lancar.

Siapa tahu, kita menertawakan seseorang yang punya semangat keras untuk belajar bahasa Inggris? Dan ada kemungkinan yang kita tertawakan ramai-ramai karena sudah berani bertanya seperti itu adalah pelajar SD? Berkaca pada diri sendiri, rasanya di usia SD saya memang belum punya kemampuan berbahasa Inggris, boro-boro mendengar lirik lagu berbahasa Inggris dengan baik.

Walaupun pelajaran bahasa Inggris ada sejak SD sampai SMA, tapi apa itu secara signifikan membuat kita bisa cas-cis-cus membaca, mendengar, dan berbicara dalam bahasa Inggris? Saya sih bisa bilang tidak.

Banyak orang dewasa yang tidak PD berbahasa Inggris. Ada yang takut membaca teks atau artikel berbahasa Inggris, sehingga harus menggunakan Google Translate. Lebih-lebih mendengar lagu bahasa Inggris, lebih-lebih lagi harus mengobrol dengan orang bule.

Kalau saya sendiri, alhamdulillah, sekarang saya bisa bilang saya lancar berbahasa Inggris, setelah melewati tahun demi tahun belajar bahasa Inggris secara otodidak. Tidak benar-benar sempurna tentu saja. Saya tidak hafal isi kamus Inggris-Indonesia, saya yakin grammar saya pun masih tidak sempurna. Tapi setidaknya saya percaya diri untuk menulis profil dan CV dalam bahasa Inggris, melahap bacaan berbahasa Inggris, menulis email dalam bahasa Inggris, mendengarkan materi presentasi/training berbahasa Inggris, hingga berbincang-bincang dengan orang asing dalam bahasa Inggris.

Sungguh pelajaran SD-SMA tidak cukup untuk membuat kita lancar berbahasa Inggris. Jadi di postingan ini saya mau berbagi cara saya belajar bahasa Inggris yang saya lakukan selama ini tanpa berhenti hingga kapan pun. Cara belajar otodidak ini menurut saya sangat menyenangkan. Jangan merasa tertekan dengan perasaan “harus belajar”, karena dari aktivitas seru sehari-hari, kita bisa belajar bahasa Inggris.

Setidaknya, ada lima hal yang harus kita kuasai kalau mau bisa dibilang lancar berbahasa Inggris

1. Grammar (Aturan/Hukum Berbahasa)

Grammar itu aturan-aturan atau hukum dalam struktur bahasa Inggris. Gampangnya, ini mengatur seperti Subyek-Predikat-Objek-Keterangan (SPOK) kalau di bahasa Indonesia. Kalau di bahasa Inggris ada aturan tentang to be (is am are), ada tense (past, present, future), dan sebagainya.

Pelajaran SD – SMA seingat saya lebih banyak mengcover grammar. Jadi saya anggap sebagian besar kita sudah tahu dasar-dasar grammar. Cara lainnya adalah dengan membaca teks berbahasa Inggris, untuk dibandingkan dengan pengetahuan grammar yang kita miliki. Saya dulu pernah ikut kursus bahasa inggris saat SMP selama beberapa bulan. Jadi kalau mampu kursus, itu akan sangat membantu juga belajar grammar.

Tenang saja, salah-salah grammar saat berkomunikasi tidak masalah kok. Tidak perlu merasa rendah diri, cukup tahu kapan pakai is, am, are, tahu bedanya you’re dan your, tahu kapan memakai they’re, their, dan there, itu sudah cukup. Pihak lawan akan tetap mengerti apa yang kita bicarakan.

2. Vocabulary (Kosakata)

Vocab itu kosakata. Car itu bahasa Inggris dari mobil, I itu bahasa Inggris dari saya, dan sebagainya. Nah, kuncinya jangan berpikir kita harus hafal seluruh isi kamus dulu baru bisa merasa pede berkomunikasi dalam bahasa Inggris.

Saya ingat cara terbaik saya menambah perbendaharaan kosakata bahasa Inggris saya adalah lewat GAMES dan FILM!

Saat SD, saya suka sekali main Sega Mega Drive. Saya ingat sekali, setiap muncul story atau dialog, pasti kita skip supaya cepat main lagi. Saat SMP, saya main PlayStation. Kebiasaan menskip story atau dialog mulai berkurang, karena saya mulai penasaran, “ini tentang apa sih ceritanya?” Saat main game di PC di usia SMA, barulah saya benar-benar mengikuti story dan dialog demi dialognya. Setiap ada kata yang saya tidak tahu artinya, saya lihat di kamus.

Tentang film, saya juga suka nonton film downloadan di komputer dengan subtitle berbahasa Inggris. Atau lewat DVD, tapi subtitlenya tetap bahasa Inggris. Caranya sama seperti main games, bedanya saat ada kata dalam film yang saya tidak mengerti, saya teruskan nonton filmnya, tidak dipause karena nanti nggak seru dong nontonnya. Yang saya lakukan adalah menerka arti kata itu (kita kan tahu adegannya, jadi bisa ditebak aja arti kata itu apa kira-kira). Saat film selesai, barulah cari di kamus.

Cara lainnya adalah dengan membaca novel atau buku kesukaan berbahasa Inggris. Mulai dari novel kesukaan, misalnya Harry Potter (bisa pinjem di perpustakaan, ga harus beli kan), atau membaca buku teks kuliah (ini yang saya lakukan empat tahun kuliah, hihihi). Selain belajar grammar, vocab kita bertambah, plus ilmu dan wawasan kita bertambah pula!

Lakukan cara ini berulang terus setiap hari selama beberapa tahun hingga saat ini, vocab saya meningkat drastis dengan cara yang seru!

3. Writing (Menulis)

Untuk bisa menulis, kita memang harus mengerti grammar dan memiliki vocab. Tapi bagaimana kita bisa tahu sejauh mana pengetahuan grammar dan vocab kita kalau tidak dibuktikan? Tidak ada cara lain selain memang menulis.

Saya pernah punya blog tempat saya belajar menulis setiap hari dalam bahasa Inggris. Tapi sekarang caranya bisa lebih seru: lewat kolom komentar di video YouTube yang kita tonton, atau di situs-situs komunitas seperti 9gag, kita komentari saja hal-hal menarik yang kita lihat di sana.

Dari menulis beberapa kata, akan jadi satu-dua kalimat, lama-lama kita terbiasa menulis panjang-panjang dalam bahasa Inggris.

4. Listening (Mendengarkan)

Cara terbaik saya belajar listening sama dengan menambah vocab di atas: nonton film. Tapi film terbaik untuk belajar listening adalah film anak-anak, bukan film drama lebih-lebih film action. Saya suka dengan film-film Disney & Pixar, karena bahasa Inggrisnya mudah untuk didengar dan dipahami.

Triknya, awalnya kita nonton dengan subtitle bahasa Inggris untuk memahami jalan ceritanya. Lalu saat kita menonton ulang filmnya, subtitle itu dihilangkan saja jadi kita fokus dengan percakapan dan kejadian yang ada di film. Lama-lama telinga kita akan terbiasa juga mendengarkan dan memahami kalau mendengar ada orang ngobrol dalam bahasa Inggris. Yang penting kita ngerti, “oh, ini ngobrol tentang X”. Sambil nonton film dan merasakan keseruannya, kita belajar bahasa Inggris.

5. Conversation (Bercakap-cakap)

Cara terbaik belajar conversation adalah dengan ngobrol itu sendiri. Usahakan punya kesempatan ngobrol dengannative speaker alias orang bule. Usahakan juga bule Amerika Serikat, karena umumnya bahasa Inggrisnya orang bule Amerika Serikat itu sangat jelas dan mudah dipahami, beda dengan Inggris orang Inggris Eropa yang logatnya khas.

Kenapa harus punya kesempatan ini? Karena begitu bisa berhasil berbicara dua arah dengan bule, kepercayaan diri kita akan meningkat drastis! Kita merasa mampu untuk terus berbicara bahasa Inggris.

Itu yang saya rasakan. Sebelum menjemput orang bule di bandara (bukan bule sembarangan pula, dia adalah Matt Mullenweg yang bikin WordPress), saya keringat dingin nggak pede, takut nanti nggak bisa ngomong apa-apa dan jadi kambing congek. Eh begitu bertanya, “is it your first time in Indonesia?” dengan nada gemetar lalu dia balas dengan antusias “yes, it’s my first time!”, hilang sudah semua mental block dan ketakutan saya. Yes, alhamdulillah orang bule ngerti kalo ngobrol ama gue! Cerita selengkapnya sudah pernah saya tuliskan.

Kalau belum dapat kesempatannya, ya kita main ngobrol bahasa Inggris dengan orang terdekat, misalnya kakak atau orang tua atau teman sekolah/kampus. Punya English Day di komunitas kita di mana hari itu kita wajib berbicara satu sama lain dalam bahasa Inggris juga sangat membantu.

Amburegul bahrelway adalah bukti bahwa kita sama-sama harus terus belajar bahasa Inggris. Suka tidak suka, bahasa Inggris adalah bahasa komunikasi utama di dunia. Lumbung ilmu pengetahuan dunia, Internet, sebagian besar isinya berbahasa Inggris. Kalau ingin memperluas pengetahuan dan wawasan, jelas kita harus menguasai bahasa Inggris.

Kalau kita sudah merasa lancar berbahasa Inggris, jangan remehkan dan tertawakan mereka yang masih amburegul. Kita pasti pernah melewati masa seperti itu. Bantu mereka untuk terus belajar, sambil kita juga terus belajar.

Buat yang bahasa Inggrisnya masih amburegul bahrelway, jangan kecil hati. Teruslah belajar, teruslah bertanya, teruslah berlatih. Cakrawala besar ilmu pengetahuan ada di depan mata, menunggu dibuka dengan kunci yang bernama bahasa Inggris.

Mari sama-sama belajar bahasa Inggris! Bagaimana caramu belajar bahasa Inggris yang menyenangkan?

*Forward dari kak Ilman*

fokuslah pada sekolah-sekolah terbaik yang ingin kamu capai. Jangan fokus pada beasiswa yang tersedia!

“Tentang Beasiswa: Bagaimana Cara Membiayai Kuliah di Luar Negeri?”

Kamu kuliah di Harvard jalur biasa atau jalur beasiswa?
Dapat beasiswa dari mana, kok bisa kuliah di Harvard?

Itu adalah beberapa contoh pertanyaan pertama yang sering orang sampaikan ke saya begitu mereka tahu saya pernah kuliah di Harvard. Semua pertanyaan sah-sah saja, tapi yang saya heran, kenapa pertanyaan-pertanyaan pertama selalu tentang beasiswa? Bukannya kalau kagum atau heran saya kuliah di Harvard harusnya yang ditanyakan adalah bagaimana caranya bisa diterima? Toh kalaupun sesorang dapat beasiswa belum tentu dia bisa diterima di Harvard. Di sebagian besar sekolah yang baik, seleksi penerimaan mahasiswa terpisah dengan seleksi untuk beasiswa. Tidak ada hubungannya kemampuan membayar seseorang dengan diterima atau tidaknya di sekolah.

Lebih umum lagi, saya juga melihat perhatian yang membabi buta pada beasiswa. Ada banyak mailing list beasiswa, website beasiswa, Twitter beasiswa dan sejenisnya, tapi sedikit sekali tempat berdiskusi tentang kualitas sekolah dan bagaimana cara diterima di sekolah yang baik.

Saya mengerti sekolah di luar negeri itu mahal sekali. Kalau kita membandingkan pendapatan per kapita orang Indonesia dengan biaya kuliah di luar negeri, sepertinya kuliah di luar negeri itu tidak mungkin dibiayai sendiri. Jadi harus dapat beasiswa. Maka wajarlah muncul pertanyaan-pertanyaan seperti tadi. Yang ingin saya luruskan melalui tulisan ini adalah kesalahan menaruh perhatian membabi buta terhadap beasiswa sehingga melupakan hal lain yang lebih penting. Saya juga ingin menjelaskan bahwa membiayai kuliah di luar negeri itu mungkin sekali, dan ada banyak caranya.

Berikut adalah dua prinsip yang harus selalu dipegang:

1. Fokuslah untuk bisa diterima di sekolah yang baik, bukan mendapatkan beasiswa.
Prinsip utama dalam merencanakan sekolah di luar negeri adalah fokuslah untuk bisa diterima di sekolah yang baik, bukan mendapatkan beasiswa. Saya ulangi lagi: FOKUSLAH UNTUK BISA DITERIMA DI SEKOLAH YANG BAIK, BUKAN MENDAPATKAN BEASISWA. Saya ulangi sekali lagi: FOKUSLAH UNTUK BISA DITERIMA DI SEKOLAH YANG BAIK, BUKAN MENDAPATKAN BEASISWA.

Saya sering tercengang bagaimana banyak sekali orang bisa lupa bahwa dalam proses persiapan sekolah di luar negeri, tujuan utama seharusnya adalah dapat bersekolah di sekolah yang sebaik mungkin. Beasiswa hanyalah salah satu alat yang memungkinkan kita sekolah.

Saya umpamakan orang yang merencanakan sekolah ke luar negeri dengan seorang pria yang mencari istri. Saya umpamakan juga proses mendapatkan beasiswa dengan proses membeli mobil untuk menarik perhatian si calon istri. Fokus utama si pria seharusnya adalah memilih wanita yang akan dijadikan istri dan mengusahakan agar lamarannya diterima wanita tersebut, BUKAN membeli mobil agar dapat menarik perhatian wanita. Membeli mobil hanyalah suatu alat untuk menarik perhatian wanita, dan itu bukan satu-satunya alat. Memiliki mobil pun bukan jaminan lamaran si pria diterima wanita tersebut.

Fokus untuk mendapatkan beasiswa bisa berbahaya, karena:
a. Fokus pada beasiswa bisa membuat pelamar mengkompromikan kualitas pendidikan.
Ambil contoh seseorang yang berencana mengambil MBA di Amerika Serikat. Si pelamar ini fokus untuk mendapatkan beasiswa. Riset yang dia lakukan adalah mencari tahu beasiswa apa yang tersedia untuk program MBA di Amerika. Dari Google dia mendapat berbagai informasi.

Singkat kata si pelamar ini akhirnya berkuliah di Executive MBA Program Walden University. Padahal, universitas ini termasuk abal-abal. Padahal (lagi), program-program MBA terbaik di Amerika juga memberikan beasiswa, cuma dia tidak tahu saja, karena dia terlalu fokus mencari beasiswa, bukan mencari tahu program-program mana saja yang terbaik baru kemudian mencari tahu cara membiayai kuliah di sana.

Contoh lain, beberapa beasiswa membatasi sekolah yang boleh dilamar, sesuai dengan anggaran beasiswa. Di Amerika Serikat misalnya, banyak sekali universitas swasta yang sangat baik (misalnya universitas-universitas Ivy League) yang biaya kuliahnya lebih mahal daripada universitas negeri. Betapa sedihnya saat seorang penerima beasiswa terpaksa memilih sekolah yang lebih buruk kualitasnya karena himbauan atau bahkan larangan si pemberi beasiswa.

b. Periode aplikasi sebagian beasiswa tidak cocok dengan periode aplikasi sekolah.
Ambil contoh seseorang yang berencana mengambil master di bidang ekonomi di Inggris di tahun 2013. Si pelamar ini fokus untuk mendapatkan beasiswa dulu baru melamar ke sekolah. Beasiswa yang paling umum untuk orang Indonesia adalah Chevening. Aplikasi Chevening untuk tahun 2013 dibuka dari Oktober sampai Desember 2012. Penerima beasiswa diumumkan pada bulan Maret 2013.

Sementara itu, sebagian besar universitas di Inggris memberlakukan sistem rolling admission, artinya aplikasi yang masuk akan langsung diproses dan hasilnya diumumkan segera. Tidak ada batas waktu aplikasi; aplikasi diterima dan diproses sampai seluruh kursi terisi. Semakin lama, kursi yang terisi semakin banyak. Untuk kuliah tahun 2013, kebanyakan universitas mulai menerima aplikasi bulan September 2012. Pada bulan Januari 2013, sebagian besar kursi di sekolah-sekolah terbaik (seperti Oxford, Cambridge, dan London School of Economics) sudah terisi. Jika si pelamar menunggu sampai Chevening mengumumkan hasil beasiswa, baru melamar sekolah, katakanlah paling cepat di bulan April 2013, hampir dapat dipastikan dia tidak akan diterima di sekolah-sekolah terbaik. Bukan karena aplikasinya tidak berkualitas, tapi karena semua kursi sudah terisi. Dia terlambat memasukkan aplikasi.

Katakanlah si pelamar juga tidak bermaksud melamar ke sekolah-sekolah terbaik. Pertama, Chevening mensyaratkan pengalaman kerja minimal dua tahun setelah lulus S1, sedangkan universitas sendiri tidak mensyaratkan hal ini. Kedua, seandainya si pelamar tidak mendapat beasiswa Chevening dan dia tidak jadi melamar ke sekolah karena itu, dia harus membuang waktu minimal satu tahun lagi sampai periode aplikasi beasiswa selanjutnya. Tidak ada jaminan juga tahun depannya dia akan mendapat beasiswa Chevening. Sampai berapa tahun dia harus menunggu sampai bisa mewujudkan mimpinya sekolah di Inggris? Padahal, kalau saja dia langsung melamar ke beberapa sekolah di Inggris (tanpa menunggu dia dapat beasiswa Chevening atau tidak) kemungkinan besar dia diterima sekolah (karena dia melamar ke beberapa sekolah).

c. Beasiswa mensyaratkan ketentuan yang mungkin tidak sejalan dengan ketentuan sekolah dan minat pelamar.
Lembaga pemberi beasiswa selalu punya misi, misalnya ingin memberdayakan kelompok masyarakat tertentu. Maka wajar jika mereka lebih memprioritaskan, atau bahkan memberi kuota khusus, untuk kelompok tertentu, misalnya wanita, pegawai negeri, orang yang berasal dari Indonesia Timur, atau korban tsunami. Mereka juga memprioritaskan atau hanya memberikan beasiswa untuk bidang tertentu, misalnya studi gender, studi hak azazi manusia, pertanian, atau tata kelola sumber daya air. Tentu itu haknya si pemberi beasiswa mensyaratkan macam-macam.

Tapi bagaimana kalau profil si pelamar dan minatnya tidak cocok dengan ketentuan beasiswa? Ambil contoh seorang pria pegawai bank swasta, asal Jakarta, yang ingin mengambil MBA. Akan sulit baginya mencari beasiswa yang cocok. Apakah dia harus mengubah bidang studi pilihannya demi memperbesar kemungkinan mendapat beasiswa? Atau dia harus menunggu sampai ada beasiswa yang mensyaratkan profil yang cocok?

2. Ada banyak sekali cara untuk membiayai sekolah, bukan hanya beasiswa.
Jadi kalau tidak dengan beasiswa, bagaimana caranya membiayai kuliah di luar negeri? Pertama, saya tidak pernah mengatakan jangan cari beasiswa. Beasiswa tetap merupakan salah satu sumber pembiayaan kuliah di luar negeri; yang saya katakan adalah fokuslah untuk dapat diterima di sekolah yang baik, dan usahakanlah berbagai sumber pembiayaan, termasuk dengan melamar secara strategis ke beberapa beasiswa.

Mari kita rinci berbagai alternatif pembiayaan untuk kuliah di luar negeri:

1. Beasiswa dari sekolah
Ambil contoh seorang yang ingin kuliah di Columbia University Graduate School of Journalism, Amerika Serikat, salah satu sekolah jurnalistik terbaik di dunia. Saya sama sekali tidak familiar dengan sekolah ini, tapi mampir sebentar saja di website sekolah ini, saya temukan daftar sekitar 100 jenis beasiswa yang ditawarkan sekolah sendiri untuk mahasiswanya.

Beasiswa ini biasanya dikelola langsung oleh sekolah, proses aplikasinya bersamaan dengan proses aplikasi sekolah, dan proses seleksinya dilakukan sendiri oleh sekolah (terpisah dari seleksi penerimaan mahasiswa). Kemungkinan besar, dari 100 beasiswa ini ada beberapa yang cocok dengan profil si pelamar. Yang paling penting adalah si pelamar harus diterima dulu di sekolah tersebut, sehingga dia bisa eligible untuk berbagai beasiswa tersebut.

2. Beasiswa dari luar sekolah
a. Beasiswa dari badan eksternal
Melanjutkan contoh kita, misalkan si pelamar mencari beasiswa lain yang disediakan pihak luar sekolah yang bisa dilamar calon mahasiswa jurnalistik dari Indonesia. Sebentar saja riset di internet, dia menemukan banyak beasiswa yang bisa dia lamar, seperti beasiswa Fulbright, Ford Foundation, USAID, Foreign Press Association, International Center for Journalists, dan lain-lain.

b. Beasiswa dari tempat kerja
Si pelamar pun bisa bernegosiasi ke tempatnya bekerja apakah mungkin ia disponsori untuk kuliah di luar negeri, baik berupa pembayaran uang kuliah, pembayaran seluruh atau sebagian gajinya saat dia sekolah, dan lain-lain.

3. Kerja paruh waktu
Kalau si pelamar diterima sekolah, saat dia mulai sekolah pun banyak cara membiayai kuliahnya, termasuk dengan bekerja paruh waktu. Dia bisa bekerja di sekolahnya sendiri misalnya sebagai teaching fellow, teaching assistant, researcher, assistant librarian, dan support assistant, Dia juga bisa bekerja di luar kampus misalnya sebagai penulis, penerjemah, tutor, researcher, bahkan profesi-profesi blue collar seperti pelayan, penjaga toko, pencuci piring.

4. Tabungan
Tentu saja si pelamar bisa membiayai sebagian biaya kuliahnya menggunakan tabungan pribadinya atau keluarganya.

5. Pinjaman (student loan)
Pelamar pun bisa mengambil pinjaman (student loan) yang periode cicilannya biasanya baru dimulai saat si peminjam sudah lulus dan bekerja, dan baru diharapkan lunas 10-20 tahun kemudian. Tidak semua orang yang kuliah di luar negeri tanpa beasiswa itu kaya raya. Mahasiswa asal Cina, India, dan Amerika Serikat sendiri berani mengambil pinjaman karena mereka tahu penghasilan mereka setelah lulus akan bisa meningkat signifikan. Anehnya, banyak calon mahasiswa Indonesia yang hanya berani menunggu beasiswa, entah sampai kapan, untuk mau kuliah. Padahal, orang-orang yang sama ini berani mengambil pinjaman untuk membeli harta seperti rumah atau mobil yang tidak akan meningkatkan potensi pendapatan mereka.

6. Donatur individu
Si pelamar pun bisa mendekati donatur individu yang potensial, misalnya alumni asal Indonesia dari sekolah yang ia tuju. Ia pun bisa melakukan kampanye pengumpulan sumbangan dari masyarakat luas. Saya sudah beberapa kali menyaksikan orang-orang yang mengumpulkan sumbangan agar bisa kuliah. Mereka sukses membiayai sekolahnya, dan setiap semester mereka memberikan laporan dan ucapan terima kasih bagi para donatur. Masih sangat sedikit orang Indonesia yang diterima di universitas-universitas terbaik dunia; jadi kalau anda sampai diterima, yakinlah, orang-orang akan bangga dan senang membantu anda.

—–

Jadi, ada banyak, banyak sekali cara untuk membiayai kuliah di luar negeri, tinggal tergantung usaha kita. Merefleksikan pengalaman pribadi, pada bulan Maret tahun 2010, saya berada di situasi di mana Saya diterima di enam universitas: Harvard, Columbia, Cornell, Chicago, New York University, dan London School of Economics, tapi belum mendapat satupun beasiswa. Sampai saat itu saya sudah melamar ke paling tidak 11 beasiswa: enam beasiswa internal Harvard Kennedy School, ditambah beasiwa eksternal seperti Fulbright (dua kali), Sampoerna Foundation (dua kali), Joint Japan-World Bank, dan lain-lain, saya sudah lupa apa lagi.

Saya tidak mendapat satu pun beasiswa ini. Selain itu, Saya pun sudah mendekati berbagai yayasan, walaupun Saya tahu mereka tidak menawarkan beasiswa. Akhirnya Saya mendapat beasiswa dari Rajawali Foundation. Saya tidak melamar ke beasiswa ini; Saya bahkan tidak tahu bahwa beasiswa ini ada. Harvard langsung mengalokasikan beasiswa ini begitu Saya diterima. Beruntung? Mungkin saja, tapi Saya lebih melihatnya sebagai hasil yang sesuai dengan usaha dan strategi yang optimal. Kalau Saya tidak meneruskan melamar sekolah saat ditolak beasiswa, mungkin sampai sekarang Saya belum sekolah.

Mencari sumber pembiayaan sekolah memang repot: menyita energi, waktu, dan pikiran. Tapi seperti yang dijelaskan di atas, caranya banyak. Apakah kita bisa mengatakan dengan jujur bahwa usaha kita untuk bisa kuliah di luar negeri sudah optimal? Anda harus luar biasa sial kalau tidak mendapat hasil sama sekali walau sudah mengusahakan semua cara yang dijelaskan di atas. Kalau masalahnya adalah malas, Saya tidak ada komentar :)

—-

Dapet dari browsing jam 3 pagi. 

We make Tumblr themes